Friday, May 13, 2005

artikelpendidikan

TOWARD ENTERPRENEUR UNIVERSITY

Tantangan perguruan tinggi kedepan semakin berat. Tantangan pertama adalah mengemban tanggung jawabnya jawabnya sebagai center of excellent untuk dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang cerdas secara intelektual, emosional, spiritual dan mempunyai kompetensi yang siap digunakan untuk mendukung kehidupannya. Tantangan kedua, perguruan tinggi sebagai institusi penyedia jasa dituntut untuk mendapatkan mahasiswa sebagai pengguna jasa. Pada konteks kedua inilah persaingan antar perguruan tinggi semakin ketat. Perguruan tinggi yang sudah siap dalam kompetisi pasar yang ketat ini akan tetap survive. Sebaliknya perguruan tinggi yang tidak siap akan gulung tikar. Dan sudah terbukti, beberapa dari perguruan tinggi di Yogyakarta banyak yang tutup karena tidak mendapatkan siswa. Sedangkan banyak diantaranya yang terengah-engah karena mahasiswa yang masuk sedikit sedangkan mahasiswa adalah satu-satunya sumber dana untuk melakukan aktifitas operasional dari perguruan tinggi yang bersangkutan.
Mencermati kecenderungan ini, UMY harus berbenah diri dalam ikut berkompetisi di era pasar bebas yang sangat ketat ini. Pembenahan, misalnya, harus dilakukan dalam domain mutu akademik, manajemen dan pemasaran. Menjadi entrepreneur university, dengan demikian, menjadi sebuah hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi bagi UMY untuk tetap survive karena model enterplreneur university memungkinkan sebuah universitas untuk tetap lincah, kreatif dan inovatif dalam melakukan pengembangan-pengembangan kualitas dan mutu.
Paper ini akan memaparkan definisi dan fenomena entrepreneur university, elemen dan bentuk EU, TQM menuju EU, pemasaran perguruan tinggi, perguruan tinggi sebagai noble industry.

1. Definisi dan Fenomena Entrepreneur University


Menurut kamus…………… entrepreneur artinya………….Jadi secara lateral EP dapat diartikan sebagai…….
Menurut James JF Forest dan Kevin Kinser dalam Encyclopedia of Higher Education in the United States, enterprenurial University mengacu pada kecenderungan pada aktifitas profit model bisnis yang dilakukan oleh staff dan fakultas.
Bok Derek, mantan presiden Harvard, dalam bukunya The university in the market place memberikan contoh entrepreneurial university dalam terminology komersialisasi perguruan tinggi. Derek memberikan ilustrasi bahwa proses komersialisai di Amerika dimulai diawal tahun 1915. Ketika itu Universitas Yale meraup keuntungan sebanyak satu juta dolar dari tim sepakbolanya. Sejak tahun 1975, universitas-universitas di Amerika semakin agresif membangun income generating di kampus-kampus mereka melalui olah raga dan aktifitas penelitian serta pendidikan yang dapat mereka jual.
Contoh lain lembah silicon……………..
Masih menurut Derek, sedemikian gegap gempitanya komersialisasi diperguruan tinggi sehingga seorang rektor dari Illionis pernah berkata : “ University is a business concern as well as a moral and intellectual instrumentality and if business methods are not applied to the management it will break down”.
Mengacu pada proposisi ini, UMY sebagai sebuah perguruan tinggi yang cukup eksis di kota pelajar ini, harus segera melakukan gebrakan-gebrakan untuk menuju entrepreneur university, baik itu pada pengembangan kegiatan untuk membangun income generating maupun pembenahan manajemennya. Pengembangan kegiatan-kegiatan menuju entrepreneur university dipaparkan pada poin 1 B dan model manajemen yang dapat diterapkan, diantaranya adalah TQM, dibahas pada poin ………….


2. Elemen-elemen dalam Entrepreneur university


Selama ini, dana operasional UMY dibebankan semuanya pada uang gedung dan SPP mahasiswa. Implikasinya, pendidikan yang diselenggarakan UMY semakin mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat bawah. Dengan kata lain, access dan equity dalam mendapatkan hak pendidikan murah bagi masyarakat belum dapat direalisasikan.
Solusi untuk meningkatkan kemampuan pendanaan UMY adalah dengan membangun unit bisnis dalam rangka mengembangkan income generating bagi universitas. Unit-unit bisnis yang dapat dikembangkan oleh UMY antara lain program akademik dan non akademik. Program akademik misalnya dengan menyelenggarakan program D1 dan D2 bahasa, program D1 dan D2 komputer, D2 dan D3 ilmu bisnis dan komputer, D2 dan D3 ilmu kesehatan dan manajemen rumah sakit. Program non akademik yang dapat dikembangkan antara lain; pendirian supermarket, pom bensin, percetakan, wartel, perkebunan, warnet, kafetaria, restaurant, bahkan gedung resepsi untuk pernikahan.
Elemen berupa unit bisnis dalam entrepreneur university tidak berdiri sendiri, namun yang lebih penting adalah pengadopsian sikap-sikap kewirausahaan yang bercirikan semangat kompetisi, berorientsi pada hasil dan berorientsi pada pasar (Osborne: 1992).
Etika kewirausahaan menjadi relevan diterapkan dalam kompetisi pasar yang sangat ketat. Mahaguru manajemen modern Peter Drucker pernah mengatakan bahwa era ekonomi yang berdasarkan “manajemen” telah berakhir, dan kita sekarang bergerak menuju era ekonomi yang berdasarkan kewirausahaan. Istilah “manajemen” dalam konteks ini adalah birokrasi, ketertiban, aturan dan prosedur yang kaku. Model ini tak jarang membuat organisasi lambat menjawab perubahan. Keterlambatan ini acap kali tidak memuaskan pelanggan, dan pada akhirnya akan merugikan organisasi. Dalam konteks ini ekonomi yang didasarkan kewirausahaan akan lebih baik karena karakter lincah dan adaptifnya dalam merespon perubahan. WIdyarto Wiwied (dalam Andreas Harefa ) membedakan antara manajer, entrepreneur dan intrapreneur. Dari aspek kebebasan bertindak, manajer boleh dikatakan paling tidak bebas. Entrepreneur paling bebas dan intrapreneur agak bebas. Ini nampak dalam hal pengambilan keputusan. Manajer harus bersetuju dengan penguasa (atasannya), menunda keputusan sampai merasa apa yang diinginkan atasannya tercapai. Entrepreneur mengikuti pandangan pribadi, mengambil keputusan dan berorientasi pada tindakan. Intrapreneur mahir mengajak orang lain menyetujui pandangan, lebih sabar dan mau leblih berkompromi daripada seorang entrepreneur,s ebab bagaimana pun intrapreneur tetap seorang pelaksana.
Dari perspektif ini, ada semacam harapan bagi pimpinan di UMY baik itu ketua jurusan, dekan , kepala tu, pimpinan UPT sampai ke rektor untuk menjadi pemimpin yang berjiwa entrepreneur yang tidak hanya diharapkan untuk menjalankan fungsi-fugnsi manajemen, tetapi juga diharapakan memainkan peranan sebagai entrepreneur dalam skala dan intensitas tertentu. Namun demikian, ini bukan berarti bahwa manajemen tidak diperlukan, ia tetap dibutuhkan tetapi tidak cukup (Harefa). Manajemen yang tidak dibutuhkan adalah yang diidentikkan dengan birokrasi yang terpusat dan kaku, sedangkan manajemen yang dibutuhkan adalah yang dapat mengakomodasikan etika dan karakter kewirausahaan.



Penerapan Total Quality management di UMY menuju entrepreneur university.

Sebuah pendekatan manajemen yang dapat mengakomodasi etika-etika entrepreneur university adalah TQM atau total quality management.

Memasarkan perguruan tinggi

Perguruan tinggi sebagai noble industry